
Sebelum aku menuliskan apa yang aku rasakan, aku minta maaf kepada seseorang yang mempunyai wajah seperti disamping.
Aku tak perlu memperkenalkan diri, rasanya aku tak kuasa untuk menuliskan namaku disini. Cerita ini ku tuliskan berhubungan dengan diriku yang mungkin orang melihat aku ini normal normal saja, tidak mempunyai masalah serius. namun aku tak merasa demikian. Kisah cintaku tragis lantaran kebodohanku sendiri. Lantaran aku merasa minder karena aku ini merasa orang miskin, sementara aku mencintai seorang gadis yang anak orang kaya.
Kisah ini berawal kurang lebih sebelas tahun lalu, tepatnya tahun 1995. Saat itu adalah hari pendaftaran masuk sekolah menengah umum. Layaknya anak-anak yang lain, aku pun mendaftarkan pula disebuah SMA di wilayah bantul. Tentu saja aku berangkat tidak disertai orang tua atau pun dengan sepeda motor sendiri (karena tidak punya sepeda motor sendiri). kalau mau naik bus saat itu aku masih terlalu kecil dan terus terang tidak berani. Kemudian setelah sampai disana, seperti proses pendaftaran disekolah lainnya, aku menyelesaikan semua persyaratan yang diminta. Aku lupa hari apa dan tanggal berapa saat itu, yang jelas setelah beberapa hari kemudian saat pengumuman penerimaan dan pembayaran daftar ulang aku berangkat kembali ke SMU itu. Dari sinilah awal kisah cintaku, ketika aku mencari loket tempat daftar ulang, saat itu sampai di sebuah room dengan loket yang menghadap keselatan dengan dua lubang kasir di bawah trali besi dan jendela kaca, aku berpapasan dengan seorang gadis kecil, cantik, imut dengan bola mata yang bulat dan hitam mengenakan celana panjang jeans hitam baju merah lengan panjang berbintik hitam. Saat itu entah mengapa mataku ini bertatapan langsung dengan mata gadis itu, hatiku kemudian berdegup keras, aku gemetar bercampur bahagia saat itu. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. yang jelas mulai saat itu hatiku ingin selalu bertemu dengan dia, setiap saat, setiap waktu. dia mampu membuat aku bersemangat di sekolah itu tanpa dia sadari.
Hari demi hari kian berlalu, akhirnya kami bersekolah detempat itu, aku menempati kelas 1 B sedangkan ia kelas 1 C, kami tidak pernah berkenalan, aku juga tidak berani memulainya, aku minder. Namun hatiku ini selalu ingin bertemu dengan ia selalu ingin menatap ia. Sering aku menangis bila ingat gadis itu tapi aku seperti tak berdaya untuk berbuat sesuatu. Ternyata aku sangat mencintainya, sedangkan ia tidak tahu sama sekali kalau AKU SANGAT MEMUJANYA. Didalam hatiku ini selalu berharap dan akupun selalu berdoa, aku minta kepada Allah supaya dia menjadi istriku apapun yang terjadi.
Selama satu tahun di kelas satu kami tidak saling kenal, tepatnya mungkin ia tak kenal aku tapi aku sangat mengenalnya dengan detail. Dari alamat sampai berapa saudaranya aku tahu.
Pada saat di kelas dua pun juga demikian, aku masih saja tetap tidak berani memulai perkenalan dan menyampaikan apa yang ada dihatiku ini. Aku hanya bisa menhan rasa, ketika ada cowok yang mendekati aku hanya bisa menahan rasa cemburu, aku minder.
Sampai saking mindernya, pernah suatu hari ketika sekolah akan bernagkat ke acara perkemahan di jombor, klaten. waktu itu kami semua masih berkumpul di depan sekolah, aku diam-diam tanpa ada yang menyadari aku sendiri juga tak menyadarinya, ternyata aku menatapnya terus menerus. Sesaat kemudian dia pun menatap aku lama dan dan tersenyum manis, sedikit menggoda-goda. Namun dasar aku yang bego, aku malah bingung dengan tatapan itu, aku merasa tak mungkin ia menatap aku, aku sadar kalau ia tersenyum padaku setelah aku melihat sekeliling ternyata semua orang tak ada yang menghadap padanya.
Yang lebih menyakitkan hati ini ketika dia menjalin cinta dengan teman sekelasnya. Aku semakin minder, cowok itu jelas lebih kaya dari aku, punya sepeda motor. Hal ini semakin membuat aku minder, namun rasa sayangku dan cintaku tak surut. Aku tetap merasa mencintainya, mengaguminya. Perlu di ketahui pula bahwa aku waktu itu kesekolah naik bus sampai berganti 3 kali.
Waktu itu kadang aku berhayal, andai aku punya sepeda motor sendiri, mungkin aku kalau berangkat sekolah bisa lewat rumahnya, kemudian bagaimana caranya setiap hari aku bisa pulang pergi berdua. Namun itu semua hanyalah mimpi. Aku sadar betul waktu itu kalau aku tak mungkin punya sepeda motor, jika aku minta orang tuaku tidak punya uang, lagian akau tak ingin membebani meraka setelah mereka bersusah payah memikirkan biaya sekolahku.
Suatu hari aku, tepatnya ketika di kelas dua, aku sangat bahagia melihat Endraning Erna V (nama gadis yang aku cintai ini) memakai Jilbab. rasa cintaku semakin bertambah dan mantap.
Masih seperti biasa, aku selalu mencari cari kesempatan untuk dapat memandangnya secara d iam-diam, aku tak kuasa untuk berterus terang. Waktu itu Aku dapat memandangnya saja hatiku sudah berbunga-bunga, bahagia sekali rasanya jika dia menjadi kekasihku, begitu persaanku saat itu. Ketika waktu istirahat, aku selalu berusaha mencari dan memandangnya setiap hari.
Kemudian suatu hari yang membuat aku semakin minder, datanglah seorang siswa baru, ia tampak menarik, ganteng dan jelas punya motor sendiri. saat itu aku takut jangan-jangan erna jatuh cinta padanya.
Tahun berganti, kami sudah kelas tiga. saat kenaikan kelas sekolah mengadakan study tour ke pulau bali. saat itu hatiku merasa hampa dengan beban rasa yang kupendam selama dua tahun. Singkat kata setelah di pulau bali, waktu itu di pantau sanur, aku bermaksud memberanikan diri mengikuti erna, meskipun dia bersama temannya dan disitu ada Agung yang siswa baru itu, tampak nya memang erna mempunyai rasa cinta kepada Agung. Entah kenangan apa saja yang mereka ukir di pulau bali, yang jelas aku hanya bisa meratap atas keminderanku sendiri sampai pulang kembali kerumah bahkan sampai masuk kekelas tiga.
Di kelas tiga, aku masuk jurusan IPS kelas IPS 1 sedangkan erna masuk jurusan IPA kelas IPA 1. ruang kelas kami memang berhadapan meski agak serong. pernah suatu hari ketika kelas ku ada pelajaran, sedangkan kelas erna kosong, ia bermain dengan temannya samping kelasku sambil berjalan dan aku mendengar tawa renyahnya, hatiku semakin bergetar mendengar tawa itu, sampai saat ini aku tak bisa melupakannya meski 11 tahun telah berlalu.
Hari demi hari aku lalui seperti hari hari yang lalu, pada suatu hari ketika kami pulang kebetulan kami naik angkutan bersamaan, duduk kami berhadapan sangat dekat sekali, tanganku hampir bersentuhan dengan tanganya. Namun aku tetap tidak berani berkata sepatahpun. aku hanya bisa menahan rasa sembari memandangi tangan dan jemarinya yang indah, ingin ku pegang jari -jari yang indah tersebut kala itu.
Sampailah akhirnya saat akhir sekolah, saat perpisahan sayangnya aku tak bisa ikut. Rumahku terlampau jauh saat itu untuk sampai ke gedung tempat perpisahan, lagian aku tak punya kendaraan sendiri.
Terakhir kali aku melihat Endraning Erna Varianesthi ialah ketika pengambilan ijazah kelulusan, saat itu kalau tidak salah hari kamis tanggal 27 juli tahun 1998. Saat itu aku baru duduk di warung tempat aku biasa beli makan kecil setelah aku selesai mengambil ijazah, beberapa saat kemudian aku melihat Erna baru datang berboncangan entah dengan siapa aku lupa.
Setelah saat itu sampai saat ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku selalu mendambakan ia menjadi istriku, aku mncintainya. Saat ini usiaku sudah 29 tahun, dan sudah sebelas tahun aku tidak melihat erna, namun di hati ini selalu ada dia. aku tetap mencintainya. mungkin sampai akhir hayatku.
Saat ini tahun 2009, aku masih saja seperti dulu, berusaha mencarinya, berusha bertemu dengannya. Aku sekarang telah mempunyai motor sendiri, meski kreditan. Sering aku lewat rumahnya meski tak berani mampir.
Kabar terakhir aku dapatkan sekitar bulan Mei 2009 dari seorang penjual dawet di kampungnya bahwa dia telah hamil lima bulan, dia telah menikah dengan seorang lelaki dari wates yang bekerja di PJKA. Memang saat itu aku sengaja mampir di warung itu utnuk bertanya soal Erna. Setelah mendengar kabar itu aku hanya bisa menahan tangis. Sungguh saat itu aku ingin meledakkan tangisku keras, jiwa kelelakianku seperti luluh lantah.
Sampai saat ini aku sulit untuk mencintai wanita lain, meski sudah waktunya aku menikah. walaupun aku tahu CINTA TAK HARUS MEMILIKI.
Erna, aku hanya dapat mengucapkan semoga kau bahagia dengan suamimu. Aku mencintaimu selalu, aku menyayangimu. Biarlah semua perasaan ini tak sempat aku ucapkan secara langsung padamu, biarlah kusimpan didalam hidupku, sebagai kenangan sebuah kisah cinta yang aneh.
Erna, aku mencintaimu selalu.